From Chicken Soup For The Couple Soul - Laura Jeanne Allen
S-h-m-i-l-y : See How Much I Love You.
Lihat, betapa saya mencintaimu.
Terima kasih, Kakek dan Nenek, lantaran sudah mengizinkan saya melihatnya.
Source : Book of Chicken soup for the couple soul
Kakek-nenekku sudah lebih dari setengah kala menikah, namun tetap memainkan permainan istimewa itu semenjak mereka bertemu pertama kali.
Tujuan permainan mereka ialah menulis kata "shmily" di daerah yang secara tak terduga, Yang akan ditemukan oleh yang lain.
Mereka bergantian menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah.
Begitu yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali lagi menerima giliran menulis kata itu di daerah tersembunyi.
Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh siapa pun yang menerima giliran menyiapkan makanan.
Mereka membuatnya dengan embun yang melekat pada jendela yang menghadap ke beranda belakang, daerah nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang hangat, buatannya sendiri.
"Shmily" dituliskan pada uap yang melekat pada beling kamar mandi sesudah seseorang mandi air panas; kata itu akan muncul berulang-ulang setiap kali ada yang selesai mandi.
Nenekku bahkan pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di ujung gulungan itu.
"Shmily" sanggup muncul di mana saja.
Pesan-pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa sanggup ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada kemudi.
Catatan-catatan kecil itu diselipkan ke dalam sepatu atau diletakkan di bawah bantal.
"Shmily" digoreskan pada lapisan debu di atas epilog perapian atau pada timbunan bubuk di perapian.
Di rumah kakek-nenekku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama pentingnya dengan perabotan.
Aku memerlukan waktu usang sekali sebelum benar-benar sanggup memahami dan menghargai permainan kakeknenekku.
Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka.
Meski begitu, saya tak pernah mewaspadai hubungan kakek-nenekku, Mereka sungguh saling mencintai.
Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang mereka tunjukkan, cinta ialah cara dan anutan hidup mereka.
Hubungan mereka didasarkan pada dedikasi dan kasih yang tulus, yang tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya.
Kakek dan Nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan.
Mereka berciuman sekilas jika bertabrakan di dapur mereka yang mungil.
Mereka saling menuntaskan kalimat pasangannya.
Setiap hari mereka bantu-membantu mengisi teka-teki silang atau permainan acak kata.
Nenekku membisikkan kepadaku bahwa kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin renta Kakek semakin tampan.
Menurut Nenek, beliau tahu "bagaimana menciptakan Kakek bahagia.
" Sebelum makan mereka selalu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka.
Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam: nenekku menderita kanker payudara.
Penyakit itu pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya.
Seperti yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenek menjalani setiap tahap pengobatan.
Dia menghibur Nenek di kamar kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna itu biar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan ketika beliau terlalu sakit untuk keluar rumah.
Sekali lagi kanker menyerang badan Nenek. Dengan pemberian sebatang tongkat dan tangan kakekku yang kukuh, mereka tetap pergi ke gereja setiap pagi.
Tetapi nenekku dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, beliau tak sanggup lagi keluar rumah.
Kakek pergi ke gereja sendirian, berdoa biar Tuhan menjaga istrinya.
Sampai pada suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi.
Nenek meninggal.
"Shmily."
Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga murung untuk nenekku.
Setelah para pelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi Nenek untuk terakhir kali.
Kakek melangkah mendekati peti mati nenekku lalu, dengan bunyi bergetar, beliau menyanyi untuk Nenek.
Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu beliau nyanyikan; lagu ninabobo dalam alunan bunyi yang dalam dan parau.
Tergetar oleh kesedihanku sendiri, saya takkan pernah melupakan dikala itu.
Karena pada dikala itulah, meskipun saya belum sanggup mengukur dalamnya cinta mereka, saya menerima kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.
S-h-m-i-l-y : See How Much I Love You.
Lihat, betapa saya mencintaimu.
Terima kasih, Kakek dan Nenek, lantaran sudah mengizinkan saya melihatnya.
Source : Book of Chicken soup for the couple soul

0 Response to "Shmily"