Latest News

Manajemen Konstruksi



BAB 1

MANAJEMEN REKAYASA



PENDAHULUAN

Pemahaman wacana konstruksi sanggup dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu teknologi konstruksi (construction technology) dan administrasi konstruksi (construction management). Kedua hal tersebut saling terkait satu sama lain dan bersinergi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan proyek.
Teknologi konstruksi (construction technology) mempelajari metoda atau teknik yang dipakai untuk mewujudkan bangunan fisik dalam lokasi proyek. Dalam bahasa Inggris, istilah technology berasal dari kata techno dan logic. dapat diartikan sebagai urutan dari setiap langkah acara (prosedur), contohnya acara X harus dilaksanakan lebih dahulu, kemudian gres acara Y dan seterusnya, sedangkan techno yakni cara yang harus dipakai secara logic.
Manajemen konstruksi (construction management), yakni bagaimana supaya sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi sanggup diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat. Sumber daya dalam proyek konstruksi sanggup dikelompokkan menjadi manpower, material, machines, money, methode.
Proyek rekayasa sipil mempunyai karakteristik yang berbeda jikalau dibandingkan dengan industri lainnya (misal manufaktur). Salah satu cirinya yakni sifat unik dan tunggal. Kondisi ini menuntut adanya rancangan dan agenda pembangunan tersendiri.
Konsekuensi dari karakteristik proyek sipil yakni timbulnya kebutuhan akan suatu teknik atau administrasi yang lebih fleksibel sehingga sanggup diaplikasikan ke aneka macam jenis proyek, Dengan demikian, teknik administrasi harus diubahsuaikan untuk membentuk administrasi gres yang sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing proyek.
Proyek rekayasa sipil selama masa pembangunan bersifat dinamis, ditunjukkan dengan selalu berubahnya sumber daya yang dibutuhkan, baik jenis maupun jumlahnya. Perubahan ini sejalan dengan tahapan dari proyek itu sendiri. Di awal proyek, kebutuhan akan sumber daya relatif masih kecil dibandingkan tahap ditengah masa pelaksanaan yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan jenis dan jumlah sumber daya. Di tamat proyek, kebutuhan sumber daya berangsur-angsur menurun dan pada balasannya tidak lagi dibutuhkan. Selanjutnya, dikatakan bahwa proyek telah selesai. Situasi ini berbeda dengan situasi industri lainnya dimana jumlah dan jenis sumber daya yang diharapkan mendekati konstan di setiap waktu.
Manajemen yang kaku dpat diaplikasikan dalam industri yang mempunyai kebutuhan sumber daya (jenis dan jumlah) relatif konstan. Oleh karenanya, administrasi semacam itu sulit diterapkan untuk proyek rekayasa sipil  alasannya yakni tidak efektif dan kurang efisien.
Dengan demikian, harus dibentuk perancangan untuk teknik/manajemen yang sanggup mengakomodasi peninjauan dan pembiasaan secara terus-menerus di setiap dikala dalam memenuhi kebutuhan yang ada demi menuntaskan pekerjaan yang sedang berjalan.

0 Response to "Manajemen Konstruksi"

Total Pageviews