
Mengapa kita harus berdakwah? Dakwah sudah tidak abnormal lagi di indera pendengaran umat muslim di Indonesia, bahkan di dunia. Dakwah merupakan perintah dari Rasulullah saw. Sebagai umatnya yang mengikuti sunnah Nabi, maka sudah sepatutnya kita sebagai umat muslim untuk memberikan ayat-ayat Al-Qur’an walaupun ilmu yang kita punya belum ibarat ilmunya para ulama. Disini saya akan memberikan apa yang telah saya baca dari sebuah buku mengenai alasan kita berdakwah.
1. Karena mengingat besarnya pahala bagi seorang dai yang menyeru kepada Allah swt.
Besarnya pahala yang Allah berikan kepada seorang dai yang menyeru kepada Allah telah disebutkan dalam banyak dalil :
1) Seorang dai ialah insan yang perkataannya paling baik. Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Fushilat : 33, yang artinya “siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh, dan berkata ‘ Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang berserah diri’?”
2) Seorang dai akan mendapatkan pahala semisal dengan orang yang mengamalkan dakwahnya. Dari Ibnu Mas’ud beliau berkata, Rasulullah saw bersabda :
“Barang siapa yang menandakan kepada kebaikan maka beliau akan menerima pahala yang sama sebagaimana orang yang mengerjakan kebaikan tersebut.(HR.Muslim)
3) Pahala seorang dai akan senantiasa mengalir sehabis kematiannya. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Jika insan meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal ; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfa’at, dan anak shalih yang senantiasa mendo’akannya”.(H.R. Muslim)
Perhatikanlah dan bandingkan ! kita seringkali mengucapkan “Rahimakumullah” (semoga Allah merahmati mereka) pada para ‘ulama dan du’at yang telah meninggal setiap kali kita menyebut nama mereka, membaca kitab mereka atau mereguk ilmu mereka. Hitunglah seberapa banyak orang islam yang mendo’akan mereka para ‘ulama yang telah menawarkan ilmunya kepada kita. Sedangkan kerabat-kerabat bersahabat kita sangatlah jarang kita mendo’akannya. Hal ini menjadi bukti bahwa apabila kita memberikan sesuatu yang bermanfa’at bagi orang lain akan senantiasa di kenang walaupun usia kita sudah tidak ada lagi dalam artian meninggal dunia. Inilah yang dimaksud dengan umur yang dipanjangkan oleh Allah melalui do’a-do’a yang senantiasa kita panjatkan.
2. Melaksanakan titah dari Rasulullah saw “Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”
Dakwah merupakan salah satu cara kita untuk mengikuti Nabi, Allah swt berfirman :
“Katakanlah : Inilah jalan (agama) ku, saya dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”, (Q.S. Yusuf : 108)
Syaikh As-Sa’di berkata bahwa maksud dari “inilah jalanku” dalam ayat diatas ialah “jalan yang saya berdakwah kepadanya, yaitu jalan yang sanggup menghantarkan kepada Allah swt, menuju rumah kemuliaan-Nya, yang meliputi ilmu wacana kebenaran, mengamalkannya, menyebarkannya, dan menjalankan agamanya dengan nrimo hanya lantaran Allah semata, tiada sekutu baginya”.
3. Agar kau mempunyai argumen di depan Allah pada hari selesai zaman nanti
Allah berfirman :
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata, ‘mengapa kau menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?’ mereka menjawab ‘agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa. ". (Q.S. Al-‘Araf : 164)
Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menyampaikan “Orang-orang yang memberi hikmah berkata ‘kami telah menasihati dan melarang meraka’ maksudnya semoga kami mempunyai alasan dalam urusan mereka. Agar mereka meninggalkan maksiat, dan kami tidak berputus asa dalam membimbing mereka. Karena diantara yang kami ucapkan ada yang berkenan di dalam hati mereka, ada pula yang menganggap ucapan kami sebagai celaan. Menegakan dalil atas perintah dan larangan merupakan keinginan semoga Allah swt memberi hidayah sehingga mereka sanggup menjalankan konsekuensi dari perintah dan larangan tersebut.
Sedangkan berdasarkan tafsir Ibnu Katsir maksudnya ialah apa yang kami telah lakukan merupakan amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga dengan pengingkarannya mereka bertakwa atas maksiat yang mereka lakukan dan meninggalkannya, kemudian kembali kepada Allah swt.
4. Mencari keselamatan di dunia dan akhirat
Allah berfirman :
“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Q.S. Al-Anfal : 25)
Syaikh As-Sa’di berkata “Siksaan akan menimpa pelaku kedzaliman dan selainnya, kalau kedzaliman dan yang lainnya telah nyata. Jika kedzaliman telah aktual dan tidak ada yang mengubahnya, maka siksa yang diturunkan akan menimpa insan secara umum, baik pelaku maupun yang lainnya. Hilangnya fitnah ini yaitu dengan amar ma’ruf nahi munkar, mengekang para pelaku kejelekan dan kerusakan, serta tidak memberi peluang bagi kemaksiatan dan kedzaliman dimanapun.
5. Agar dirimu dan masyarakatnya menjadi baik
Jika seorang ibu telah mencurahkan semua kemampuan untuk memperbaiki perkembangan anaknya di rumah. Maka, ketika sang anak keluar dari rumahnya, beliau akan menemukan perkara-perkara yang bertentangan dengan pendidikan yang telah didapatinya di rumah, baik secara ilmu, perbuatan, tingkah laris dan keyakinan. Apalagi dengan kemajuan zaman ketika ini, pergaulan anak semakin bertambah parah apabila dakwah tidak lagi dilakukan. Dengan dakwah, berharap kepada Allah swt semoga kita dan lingkungan sekitar kita sanggup terhindar dari perkembangan zaman, terutama pengaruh negatifnya.
6. Ahli kebathilan telah mencurahkan semua kemampuannya dan mempromosikan tujuan-tujuannya, maka mahir kebenaran lebih layak untuk mencurahkan seluruh kemampuannya
Dari fakta menyatakan, kesungguhan kaum kufur tidak pernah putus, kesungguhan mahir bid’ah juga tidak akan pernah lelah dan bosan, kemudian dimanakah kesungguhan ahlu sunnah?
Allah berfirman :
“Janganlah kau berhati lemah dalam mengejar mereka(musuhmu). Jika kau menderita kesakitan, maka sebenarnya merekapun menderita kesakitan(pula), sebagaimana kau menderitanya, sedang kau mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan ialah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. An-Nisa :104)
Jika sakit yang diderita sama, sedangkan yang diperlukan berbeda, maka siapa saja yang pengharapannya kepada Allah benar, beliau akan mendapatkan kekuatan dan keteguahan yang tidak didapat orang lain
7. Agar insan sanggup mendengar kebenaran, sampai kebenaran tidak dianggap sebagai kebathilan dan kebathilan dianggap sebagai kebenaran akhir kita berdiam diri
Renungkanlah ! ketika semua mahir kebenaran diam, insan akan senantiasa memperoleh kebathilan, alasannya ialah ditinggalkannya pelajaran dan keterangan wacana kebenaran. Tidak ada sambutan dari objek dakwah bukan menjadi alasan kita untuk berhenti berdakwah. Karena walaupun hanya sekedar memperdengarkan suatu hal yang bermanfa’at wacana nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, itu sudah termasuk kedalam kebajikan. Tugas kita hanyalah menyampaikan, problem di terima atau tidaknya oleh orang lain itu urusan mereka dan Allah swt sebagai pemberi Hidayah. Semoga Allah swt senantiasa menawarkan hidayah-Nya kepada kita semua aamiin…
8. Mendapatkan mentalitas yang besar lengan berkuasa dan daya intelektualitas yang kokoh
Allah berfirman :
“Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang bebuat kebajikan”. (Q.S. Hud : 117)
Syarat semoga mereka termasuk kedalam golongan orang-orang yang berbuat kebaikan, tidak cukup hanya dengan berbuat keshalihan. Dakwah tidak hanya ketika tiba problem kemudian tampil sebagai penolak, tetapi secara terus-menerus baik di keluarga, dalam pergaulan, dan hal-hal lainnya yang sanggup di selipkan.
9. Jangan merasa lemah sampai aib untuk berdakwah pada agama ini
Kadang-kadang selalu terlintas dalam diri kita pikiran hina terhadap diri sendiri. Sehingga untuk memberikan satu ayat kita sering berfikir dua kali, lantaran merasa bahwa diri kita juga belum merasa baik, bagaimana kalau mereka membalikan perkataan kita. Yah, itulah yang sering kali terbesit di pikiran kita, lantaran akhir dari melihat siapa yang bicara. Padahal dalam keterangan dikatakan undzur maa qala wala tandzur man qola“lihatlah apa yang dibicarakan jangan lihat siapa yang bicara”. Maksudnya sangat jelas, seharusnya perilaku kita terhadap siapa saja yang berdakwah ialah mendapatkan dengan lapang dada tanpa melihat siapa yang bicara, walaupun itu anak kecil yang usianya dibawah kita, atau bahkan orang yang ilmunya dibawah kita, apabila perkataannya memperlihatkan kepada kebaikan maka janganlah diabaikan. Sehingga tidak ada lagi perasaan hina untuk berdakwah, dan ingat bahwa dakwah bukan hanya diatas mimbar di mesjid atau mushola, dakwah itu di lingkungan sekitar kita.
10. Karena tabi’at insan beliau akan mengajak insan lainnya pada apa yang diimaninya
Kita ambil pola yah, ketika kita telah menemukan cara memasak terbaru yang sama sekali belum pernah ada yang mencoba, sekalipun koki masak dunia, maka apa yang akan kita rasakan ? jawabannya tentu saja kita akan merasa bahagia dan kita berharap orang-orang sanggup melaksanakan ibarat yang telah kita lakukan. Bahkan bisa jadi kita mepromosikannya untuk mengajak orang lain mencar ilmu memasak ala kita. Hal ini membuktikan bahwa dakwah juga ibarat itu, ketika kita telah mempunyai ilmu wacana suatu masalah maka sering terbesit dalam fikiran kita untuk menyampaikannya kepada khalayak. Sebagai fitrah dari insan yang telah lahir di muka bumi yang selalu menginginkan kebaikan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain.
baik, untuk postingan wacana alasan mengapa kita harus berdakwah di cukupkan dulu sekian, semoga bermanfaat
baca juga keutamaan menjaga shalat sunnah rawatib
baik, untuk postingan wacana alasan mengapa kita harus berdakwah di cukupkan dulu sekian, semoga bermanfaat
baca juga keutamaan menjaga shalat sunnah rawatib
0 Response to "10 Alasan Berdakwah"